KATA PENGANTAR
Dengan
nama ALLAH Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang . Puji dan syukur kami
panjatkan kehadirat ALLAH SWT , karena atas rahmat dan karunia-NYA kami dapat
menyeleseikan tugas ini.
Tugas
ini di susun sebagai tugas merangkum materi tentang Koloid yang merupakan salah satu tugas mata
pelajaran Kimia di SMA Negeri 2 Pasuruan.
Selama
pelaksanaan dan penyusunan tugas ini, penulis telah memperoleh bantuan,
bimbingan, petunjuk serta saran-saran dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada
kesempatan ini penulis mengahaturkan rasa syukur dan terima kasih kepada:
- Allah
SWT dan junjungan kita Rosulullah Muhammad SAW.
- Orang
tua yang telah memberi do’a dan dukungan baik moril maupun materil yang
tak terhingga kepada penulis.
- Bapak
Drs. M.Thohir selaku kepala sekolah SMAN 2 Pasuruan yang telah banyak
memberikan dorongan kepada penulis.
- Ibu
Agustine, selaku guru pembimbing bidang studi Kimia yang telah banyak
memberikan bantuan dan arahan kepada penulis dalam proses belajar mengajar
hingga tersusunnya tugas ini.
- Staf
bapak dan ibu guru yang telah mengajar di SMAN 2 Pasuruan yang telah
memberikan dorongan kepada penulis.
- Semua
teman yang telah membantu kami selama penelitian pertumbuhan adenium
sehingga kami bisa menyelesaikan tugas ini.
Kami
sangat menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu
penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun sebagai
bahan masukan dan bahan pertimbangan bagi kami dalam menyelesaikan tugas-tugas
berikutnya.
Pasuruan,22
Maret 2010
Penulis
DAFTAR ISI
COVER................................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR.......................................................................................................... ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................................... iii
BAB I TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Tujuan.............................................................................................................................. ....1
1.2 Latar
Belakang................................................................................................................. ....1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sistem
Koloid................................................................................................................3
2.2 Penyebab
Tumbuhan Mati Dalam
Praktikum................................................................ ...5
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan......................................................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Tujuan
ü Untuk
memenuhi tugas dari guru bidang studi.
ü Untuk
bahan belajar mengenai materi Koloid
1.2 Latar
Belakang
Koloid
adalah suatu campuran zat heterogen (2 fase) antara dua zat atau lebih dimana
partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi atau yang
dipecah) tersebar secara merata didalam zat lain (medium pendispersi atau
pemecah). Ukuran partikel koloid berkisar antara 1-100 Nm. Ukuran yang dimaksud
dapat berupa diameter, panjang, lebar maupun tebal dari suatu partikel. Contoh
dari sistem koloid adalah tinta, yang terdiri dari serbuk-serbuk warna (padat)
dengan cairan (air). Selain tinta, masih terdapat banyak sistem koloid yang
lain, seperti mayones, hairspray, jelly, dan lain-lain.
PEMBAHASAN
2. 1 Sistem Koloid
Koloid sudah dikenal sejak ribuan
tahun, tetapi dipelajari secara ilmiah baru dimulai awal abad 19. Pada tahun
1907 Ostwald mengemukakan istilah Sistem Dispersi untuk koloid. Dispersi
merupakan pencampuran secara merata antara dua zat atau lebih. Ostwald kemudian
menggolongkan system koloid atas dasar ketiga fase materi yaitu padat, cair dan
gas. Berdasarkan ukuran partikel, dalam system dispersi dapat digolongkan
menjadi tiga macam antara lain sebagai berikut:
a.
Larutan
Larutan adalah zat yang terdispersi secara homogen dalam
medium pendispersi.
b.
Suspensi
Suspensi adalah zat yang terdispersi secara heterogen
dalam medium pendispersinya.
c.
Sistem
koloid
Sistem
koloid adalah campuran antara campuran homogen dan campuran heterogen.Sistem
koloid merupakan keadaan diantara suatu larutan dan suspensi.
Tabel Perbandingan Sifat Larutan, Sistem koloid dan
Suspensi
|
No |
Sifat |
Larutan |
Sistem koloid |
Suspensi |
|
1 |
Bentuk Campuran |
Homogen |
Tampak Homogen |
Heterogen |
|
2 |
Bentuk Dispersi |
Dispersi Molekuler |
Dispersi Padatan |
Dispersi Padatan |
|
3 |
Ukuran Partikel |
<10-7 cm atau <1 nm |
10-7 – 10-5 cm atau 1
nm – 100 nm |
>10-5 cm atau >100 nm |
|
4 |
Penyaringan |
Tidak dapat disaring |
Dapat disaring dengan penyaring ultra |
Dapat disaring dengan penyaring biasa |
|
|
|
Stabil atau tidak memisah |
Pada umumnya stabil |
Tidak stabil |
|
|
|
Jernih |
Tidak jernih |
Tidak jernih |
|
|
|
Satu fase |
Dua fase |
Dua fase |
|
|
|
Contoh : - Larutan gula - Larutan garam - Alkohol 70% - Udara bersih |
Contoh : - Sabun - Susu - Santan - Jeli - Mentega |
Contoh: - Air sungai yang keruh - Air dengan pasir - Kopi dengan air - Minyak dengan air - Tepung beras dalam air |
2. 2
Macam – Macam Koloid
Jika
suatu larutan tersusun dari komponen – komponen zat terlarut dan pelarut, maka
suatu sistem koloid juga tersusun dari dua komponen, yaitu sebagai berikut :
1.
Fase
terdispersi ( zat terlarut ) adalah zat yang didispersikan ke dalam zat lain
atau zat yang jumlahnya sedikit.
2.
Medium
pendispersi ( pelarut ) adalah fase yang digunakan untuk mendispersikan atau
zat yang jumlahnya banyak.
Contoh :
Dispersi
tanah liat
Fase
terdispersi : partikel tanah liat
Medium
pendispersi : air
Tabel Macam – macam sistem koloid
|
No |
Fase terdispersi |
Medium pendispersi |
Nama koloid |
Contoh |
|
1 |
Gas |
Gas |
- |
- |
|
2 |
Gas |
Cair |
Busa, Buih |
Krim, busa sabun, ombak, busa bir |
|
3 |
Gas |
Padat |
Busa Padat |
Batu apung, karet busa, lava |
|
4 |
Cair |
Gas |
Aerosol Cair |
Kabut, awan, spray/obat semprot |
|
5 |
Cair |
Cair |
Emulsi |
Susu, scot emulsion, santan, mayones |
|
6 |
Cair |
Padat |
Emulsi padat / gel |
Keju, mentega, agar – agar, lateks |
|
7 |
Padat |
Gas |
Aerosol Padat |
Asap, debu |
|
8 |
Padat |
Cair |
Sol |
Cat, kanji, tinta, sol belerang, air sungai |
|
9 |
Padat |
Padat |
Sol Padat |
Intan, kaca, Perunggu, Kuningan |
Pengertian
Macam – macam Sistem Koloid
Busa
atau buih
Busa atau buih adalah sistem koloid yang fase
terdispersinya gas dan medium pendispersinya cair. Busa adalah sistem koloid
yang stabil karena sabun merupakan surfaktan. Molekul
surfaktan cenderung terkonsentrasi pada permukaan atau antar permukaan cairan
dan gas, dan terdiri atas dua bagian, yaitu yang bersifat nonpolar dan gugus
polar.Busa atau buih dapat digunakan pada berbagai proses, misalnya pengolahan
biji logam pada alat pemadam kebakaran.
Busa
Padat
Busa padat adalah sistem koloid yang terjadi jika padat
terdispersi dalam gas, misalnya batu apung. Busa padat terjadi pada suhu tinggi
dengan medium pendispersi yang mempunyai titik lebur di atas suhu kamar
sehingga pada suhu kamar berwujud padat.
Aerosol
Cair
Aerosol cair adalah sistem koloid dengan fase terdispersi cair dalam medium
pendispersi gas. Aerosol awan yang sering kita jumpai, misalnya kabut dan
awan.Kabut letaknya dekat permukaan bumi sedangkan awan terdapat di angkasa.
Kabut terjadi jika udara yang memiliki kelembapan tinggi mengalami pendinginan
sehingga uap air yang terkandung di udara mengembun dan bergabung membentuk
sistem koloid.
Emulsi
Emulsi adalah sistem dispersi antara cairan dengan cairan yang tidak dapat
bercampur homogen. Misalnya minyak dalam air dan susu. Jika minyak dimasukkan
kedalam air, akan diperoleh emulsi minyak air. Sebaliknya, jika tetes – tetes
air dimasukkan ke dalam minyak diperoleh emulsi air minyak. Pada umumnya emulsi
kurang stabil. Untuk menstabilkan suatu emulsi diperlukan zat pengelmusi yang
disebut emulgator. Fungsi zat
pengelmusi atau emulgator adalah menurunkan tegangan permukaan cairan sehingga
tidak mudah bergabung lagi. Contoh emulgator antara lain : sabun, detergen,
gelatin, lesitin, kasein, fosfolipida, gom, senyawa fluorokarbon, dan
alkanolamida lemak.
Emulsi
Padat
Emulsi padat adalah sistem koloid dengan fase terdispersi cair dalam medium
pendispersi pada yang tidak dapat bercampur. Misalnya, mentega adalah dispersi
air dalam lemak.
Aerosol Padat
Aerosol
padat atau sol gas ialah
koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase gas. Hal ini berarti
zat terdispersi fase padat dan medium fase gas. Contoh: asap dan debu.
Sol
Sol ialah jenis koloid dengan zat fase padat
terdispersi dalam zat fase cair. Berarti, Hal ini berarti zat terdispersi fase
padat dan medium fase cair. Contoh: cat, tinta, dan kanji.
Sol padat
Sol
padat ialah jenis koloid
dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase padat. Contoh: logam paduan,
kaca berwama, intan hitam, dan baja.
2. 3
Sifat –
Sifat Koloid
Pada dasarnya sifat koloid dapat digolongkan
berdasarkan sifat optik dan sifat listriknya, yaitu sebagai berikut:
A.
Berdasarkan
Sifat Optiknya
Yang termasuk sifat optik antara lain :
1. Efek
Tyndall
Efek Tyndall ini
ditemukan oleh John Tyndall (1820-1893), seorang ahli fisika Inggris. Oleh
karena itu sifat itu disebut efek tyndall.
Efek
Tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar atau efek
penghamburan cahaya oleh partikel koloid jika seberkas cahaya dilewatkan pada
koloid. Efek tyndall terjadi karena partikel koloid mampu memantulkan kembali
cahaya yang diterima. Pada saat larutan sejati (gambar kiri) disinari dengan
cahaya, maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan pada
sistem koloid (gambar kanan), cahaya akan dihamburkan. Hal itu terjadi karena
partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk
dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya,
pada larutan sejati, partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang
terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati.
Contoh:
Sorot lampu pada malam hari kelihatan jelas jika ada
partikel debu, asap atau kabut.
Pancaran sinar matahari ke bumi
Sorot lampu proyektor dalam gedung bioskop yang tampak
karena ruangan berasap
- Gerak Brown
Jika
kita amati system koloid dibawah mikroskop ultra, maka kita akan melihat bahwa
partikel-partikel tersebut akan bergerak terus – menerus secara acak membentuk
zigzag. Gerakan acak dari partikel koloid dalam medium pendispersinya yang
membentuk zigzag ini dinamakan gerak Brown. Pergerakan tersebut dijelaskan pada penjelasan berikut:
Partikel-partikel
suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti
pada zat cair dan gas, atau hanya bervibrasi di tempat seperti pada zat padat.
Untuk system koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakan
partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan dengan partikel-partikel koloid
itu sendiri. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran
partikel cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang.
Sehingga terdapat suatu
resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga
terjadi gerak zigzag atau gerak Brown.
Semakin
kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown terjadi. Demikian pula,
semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi.
Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak
ditemukan dalam zat padat (suspensi).
Gerak
Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu system koloid, maka
semakin besar energi kinetic yang dimiliki partikel-partikel medium
pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase
terdispersinya semakin cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu
system koloid, maka gerak Brown semakin lambat.Gerak Brown merupakan salah satu
faktor yang menstabilkan koloid, karena bergerak terus – menerus sehingga
partikel koloid dapat mengimbangi gaya gravitasi sehingga tidak mengendap.
B. Berdasarkan sifat listriknya
1.Adsorpsi
koloid
Apabila partikel-partikel sol padat ditempatkan dalam zat cair atau gas, maka
pertikel-partikel zat cair atau gas tersebut akan terakumulasi pada permukaan
zat padat tersebut. Fenomena ini disebut adsorpsi. Beda halnya dengan absorpsi.
Absorpsi adalah fenomena menyerap semua partikel ke dalam sol padat bukan di
atas permukaannya, melainkan di dalam sol padat tersebut.
Partikel
koloid sol memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi partikel-partikel pada
permukaannya, baik partikel netral atau bermuatan (kation atau anion) karena
mempunyai permukaan yang sangat luas.
Contoh :
ü Koloid Fe(OH)3 bermuatan
positif karena permukaannya menyerap ion H+.
ü 
Koloid As2S3
bermuatan negatit karena permukaannya menyerap ion S2.
Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena Koloid As2S3 bermuatan negatif
karena permukaannya menyerap ion H+ permukaannya menyerap ion S2
2.
Elektroforesis
Elektroforesis adalah peristiwa pergerakan
partikel koloid yang bermuatan kesalah satu elektrode. Elektroforesis dapat
digunakan untuk mendeteksi muatan suatu sistem koloid. Jika koloid bergerak
menuju elektroda positif maka koloid yang dianalisa mempunyai muatan negatif.
Begitu juga sebaliknya, jika koloid bergerak menuju elektroda negatif maka
koloid yang dianalisa mempunyai muatan positif. Salah satu proses yang
menggunakan sistem elektroforesis adalah proses membersihkan asap dalam suatu
industri dengan menggunakan alat Cottrell. Penggunaan elektroforesis tidak
hanya sebatas itu, melainkan meluas untuk memisahkan partikel yang termasuk
dalam ukuran koloid, antara lain pemisahan protein yang mempunyai muatan yang
berbeda. Contoh percobaan elektroforesis sederhana untuk menentukan jenis
muatan dari koloid X diperlihatkan pada Gambar.
Penyaringan Ultra
Penyaringan ultra digunakan untuk memisahkan koloid melewati membran. Proses pemisahan ini didasarkan pada
perbedaan tekanan osmosis.


Contoh penggunaan elektroforesis antara
lain :
Penentuan muatan suatu partikel koloid
Pengurangan zat – zat pencemar udara yang
dikeluarkan dari cerobong asap pabrik
3. Koagulasi
Koagulasi
adalah peristiwa penggumpalan atau pengendapan koloid.Proses terjadinya
koagulasi adalah sebagai berikut :
Cara
mekanik, misalnya : pemanasan, pendinginan atau pengadukan.
Cara
kimia, yaitu dengan cara penambahan larutan elektrolit.
Pencampuran
dua koloid yang berbeda muatan, misalnya Al(OH)3 bermuatan positif
dicampur dengan As2S3 akan membentuk endapan.

Beberapa contoh koagulasi dalam kehidupan sehari – hari
dan industri sebagai berikut:
Pembentukan delta
pada muara sungai
Pengolahan
air
Proses
penjernihan air
Penggumpalan
darah
- Koloid Pelindung
Koloid pelindung adalah koloid yang dapat memberikan efek
kestabilan koloid sehingga koloid terhindar dari proses koagulasi. Fungsi
koloid pelindung adalah membentuk lapisan disekeliling partikel koloid sehingga
dapat melindungi muatan koloid. Koloid pelindung banyak digunakan dalam pembuatan
cat, tinta, krim rambut, es krim, dan sebagainya.
Contoh:
Susu
merupakan emulsi lemak dalam air, koloid pelindungnya adalah kasein.
- Dialisis
Dialisis merupakan proses pemurnian suatu sistem
koloid dari partikel-partikel bermuatan yang menempel pada permukaan.Tujuan
dialisis adalah untuk menghindari koagulasi dari ion-ion pengganggu.
Misal :
Pada pembuatan sol Fe(OH)3 terdapat ion Cl- dan H+.
Pada pembuatan As2S3
terdapat ion H+ dan S2-.
Caranya, koloid
dimasukkan dialisator, bagian luar terus – menerus dialiri air, zat yang
terdapat koloid misalnya ion – ion dan
molekul dapat menembus membran permeable. Proses pemisahan ini didasarkan pada
perbedaan laju transport partikel. Prinsip dialisis digunakan dalam alat cuci
darah bagi penderita gagal ginjal, di mana fungsi ginjal digantikan oleh
dialisator.


C.
Berdasarkan bentuknya
Koloid
yang memiliki medium dispersi
cair dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
1. Koloid Liofil
(Lio = Cairan ; philia = Senang)
Partikel – partikel koloid
dapat mengabsorpsi cairan mediumnya, sehingga terbentuk selubung cairan di
sekeliling partikel koloid. Jika cairannya berupa air maka istilahnya adalah
hidrofil. Contoh: kanji, protein, agar – agar, dll.
2. Koloid Liofob
(Lio
= cairan ; Phobia = takut / tidak
senang).
Perbandingan sifat sol hidrofil dan sol
hidrofob adalah sebagai berikut :
|
No |
Koloid Hidrofil |
Koloid Hidrofob |
|
1 |
Stabil,
tidak perlu stabilizer |
Kurang stabil, perlu ditambah stabilizer |
|
2 |
Mudah
dibuat, cukup dengan pengadukan / pemanasan |
Sukar dibuat,
memerlukan metode khusus |
|
3 |
Digumpalkan
dengan penambahan elektrolit yang banyak |
Mudah digumpalkan dengan hanya penambahan sedikit
elektrolit |
|
4 |
Koloid
bersifat reversible |
Koloid
bersifat irreversible |
|
5 |
Efek
Tyndall terlihat samar, sebab partikel lebih halus |
Efek Tyndall terlihat jelas, sebab partikel lebih
jelas |
|
6 |
Gerak
Brown cepat |
Gerak Brown
lambat |
|
7 |
Fasa
terdispersi pada umumnya zat organik |
Fasa terdispersi pada umumnya zat anorganik |
|
8 |
Beberapa
sol liofil dapat diubah menjadi gel |
Tidak ada sol liofob yang dapat diubah
menjadi gel |
2.4 Pembuatan Koloid
Oleh
karena ukuran partikel koloid terletak diantara partikel suspensi dan partikel
larutan, maka terdapat dua cara pembuatan sistem koloid.
CARA DISPERSI
Pada
prinsipnya adalah mendapatkan partikel koloid dengan menghaluskan partikel
kasar ( suspensi ). Ada 3 cara yang digunakan dalam cara dispersi, yaitu
sebagai berikut :
Cara Mekanik :
Proses mekanik adalah proses pembuatan koloid melalui
penggerusan atau penggilingan (untuk zat padat) serta dengan pengadukan atau
pengocokan (untuk zat cair). Setelah diperoleh partikel yang ukurannya sesuai
dengan ukuran koloid, kemudian didispersikan ke dalam medium (pendispersinya). Contoh, pembuatan sol belerang.
Cara Kimia (Peptisasi)
Peptisasi
adalah cara pembuatan koloid dengan menggunakan zat kimia (zat elektrolit)
untuk memecah partikel besar (kasar) menjadi partikel koloid atau dengan cara penambahan
elektrolit yang mengandung ion sejenis. Contoh, proses pencernaan makanan dengan enzim dan
pembuatan sol belerang dari endapan nikel sulfida, dengan mengalirkan gas asam
sulfida.

Cara Busur Bredig
(Elektrodispersi)
Busur Bredig ialah alat pemecah zat padatan (logam) menjadi partikel
koloid dengan menggunakan arus listrik tegangan tinggi. Caranya : dua kawat logam
yang berfungsi sebagai elektroda dicelupkan kedalam air, kemudian diantara
kedua kawat diberi loncatan listrik. Sebagian logam akan mendebu kedalam air
dan terbentuklah koloid.

Suara
Ultrasonik
Cara ini hampir sama dengan
cara busur Bredig, yaitu sama-sama untuk pembuatan sol logam. Ka1au busur
Bredig menggunakan arus listrik tegangan tinggi, maka cara ultrasonik
menggunakan energi bunyi dengan frekuensi sangat tinggi, yaitu di atas 20.000
Hz.
CARA KONDENSASI
Pada
prinsipnya partikel – partikel halus (ion, atom, molekul) digumpalkan menjadi
partikel berukuran koloid.Ada 2 cara yang digunakan dalam cara kondensasi,
yaitu sebagai berikut :
Cara Fisika:
Pendinginan, pergantian pelarut, dan
pengembunan.
Cara kimia:
1)
Reaksi Redoks
Dalam
reaksi ini disertai perubahan bilangan oksidasi.
a.Pembuatan
sol belerang
2H2S(g)
+ SO2(aq) ®
3S(s) + 3H2O(l)
b.Pembuatan
sol emas
AuCl3(aq)
+ 3FeSO4(aq) ®
Au(s) + Fe(SO4)3(aq) + FeCl3(aq)
2)
Reaksi Hidrolisis
Hidrolisis
adalah reaksi suatu zat dengan air.
a. Pembuatan sol
Fe(OH)3
FeCl3(aq)
+ 3H2O(l) ®
Fe(OH)3(s) + 3HCl(aq)
b.Pembuatan
sol AL(OH)3
AlCl3(aq)
+ 3H2O(l) ®
Al(OH)3(s) + 3HCl(aq)
3)
Reaksi Substitusi
Pembuatan
sol As2S3
2H3AsO3(aq)
+ 3H2S(g) ®
As2S3(s) + 6H2O
4)
Reaksi Penggaraman
Sol
garam yang sukar larut : AgCl, AgBr, PbI2, PbSO4, BaSO4.
AgNO3(aq)
+ NaCl(aq) ®
AgCl(s) + NaNO3(aq)
2.5 Penggunaan Koloid
Dalam Kehidupan Sehari – Hari
Sistem
koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan
sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu
dapat digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan
secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi dalam skala besar.
Berikut ini
adalah tabel aplikasi koloid:
|
No. |
Jenis Industri |
Contoh Aplikasi |
|
1 |
Industri makanan |
Keju, mentega,
susu, saus salad |
|
2 |
Industri
kosmetika dan perawatan tubuh |
Krim, pasta gigi, sabun |
|
3 |
Industri cat |
Cat |
|
4 |
Industri kebutuhan rumah tangga |
Sabun, deterjen |
|
5 |
Industri pertanian |
Peptisida dan insektisida |
|
6 |
Industri farmasi |
Minyak ikan, pensilin untuk
suntikan |
Berikut ini adalah penjelasan mengenai aplikasi koloid:
1.
Pemutihan Gula
Gula
tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Dengan melarutkan gula ke dalam air,
kemudian larutan dialirkan melalui sistem koloid tanah diatomae atau karbon.
Partikel koloid akan mengadsorpsi zat warna tersebut. Partikel-partikel koloid
tersebut mengadsorpsi zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat berwarna
putih.
2.
Penggumpalan Darah
Darah mengandung
sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif. Jika terjadi luka, maka luka
tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik atau tawas yang mengandung ion-ion
Al3+ dan Fe3+. Ion-ion tersebut membantu agar partikel koloid di protein bersifat netral
sehingga proses penggumpalan darah dapat lebih mudah dilakukan.
3. Penjernihan Air
Air keran (PDAM)
yang ada saat ini mengandung partikel-partikel koloid tanah liat,lumpur, dan
berbagai partikel lainnya yang bermuatan negatif. Oleh karena itu, untuk
menjadikannya layak untuk diminum, harus dilakukan beberapa langkah agar
partikel koloid tersebut dapat dipisahkan. Hal itu dilakukan dengan cara
menambahkan tawas (Al2SO4)3.Ion Al3+ yang terdapat pada tawas tersebut akan
terhidroslisis membentuk partikel koloid Al(OH)3 yang bermuatan
positif melalui reaksi:
Al3+
+ 3H2O ®
Al(OH)3 +
3H+
Setelah
itu, Al(OH)3 menghilangkan muatan-muatan negatif dari
partikel koloid tanah liat/lumpur dan terjadi koagulasi pada lumpur. Lumpur
tersebut kemudian mengendap bersama tawas yang juga mengendap karena pengaruh
gravitasi.
Berikut ini adalah skema proses penjernihan air secara lengkap:

4. Pembentukan delta di muara sungai
Air
sungai mengandung partikel-partikel koloid pasir dan tanah liat yang bermuatan
negatif. Sedangkan air laut mengandung ion-ion Na+, Mg2+,
dan Ca2+ yang bermuatan positif. Ketika air sungai bertemu di laut,
maka ion-ion positif dari air laut akanmenetralkan muatan pasir dan tanah liat.
Sehingga, terjadi koagulasi yang akan membentuk suatu delta.
5. Pengambilan endapan pengotor
Gas
atau udara yang dialirkan ke dalam suatu proses industri seringkali mangandung
zat-zat pengotor berupa partikel-partikel koloid. Untukmemisahkan pengotor ini,
digunakan
alat pengendap elektrostatik yang pelat
logamnya yang bermuatan akan digunakan untuk
menarik partikel-partikel koloid.
6.
Produk Makanan
Banyak artikel makanan yang
kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari kita koloid di alam. Sebagai contoh,
susu, mentega dan es krim merupakan koloid di alam.
7.
Obat
Sebagian
besar obat-obatan koloid di alam. Koloid kalsium dan emas yang dikelola oleh
suntikan untuk meningkatkan vitalitas sistem manusia.
8. Asap Air hujan menggunakan
Cottrell precipitator
Partikel
koloid Asap dan debu merupakan sumber utama polusi di kota-kota industri besar.
Asap presipitasi adalah teknik mempercepat partikel asap yang ada di udara.
Asap partikel bermuatan listrik partikel koloid tergantung di udara. Untuk
menghilangkan partikel-partikel dari udara, Cottrell precipitator digunakan.
Cottrell precipitator menggunakan prinsip electrophoreses (pergerakan partikel
koloid di bawah pengaruh medan listrik) untuk menyaring partikel asap. Udara
yang mengandung asap dan partikel debu yang diperbolehkan untuk melewati
elektroda logam hadir dalam Cottrell precipitator. Partikel bermuatan ini malah
bergerak ke arah elektroda bermuatan dan mendapatkan didepositokan sana dari
mana mereka ini dihapuskan secara mekanis.
9.
Hujan buatan
Koloid
menemukan aplikasi lain dalam menghasilkan hujan buatan. Awan terdiri
dari partikel bermuatan air tersebar di udara. Partikel-partikel ini malah
dinetralisir dengan menyemprotkan partikel bermuatan di atas awan. Dinetralkan
ini partikel air dapat bergabung menjadi tetesan air besar. Dengan demikian,
hujan buatan disebabkan oleh agregasi partikel menit air untuk membentuk
partikel besar.
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Partikel koloid dapat menghamburkan cahaya sehingga berkas cahaya yang
melalui sistem koloid. Dapat diamati dari samping sifat partikel koloid ini
disebut efek Tyndall.
Jika diamati dengan mikroskop ultra
ternyata partikel koloid senantiasa bergerak dengan gerak patah-patah yang
disebut gerak Brown. Gerak Brown terjadi karena tumbukan tak simetris antara
molekul medium dengan partikel koloid.
Koloid dapat mengadsorpsi ion atau zat lainpada permukaannya, dan oleh
karena luas permukaannya yang relatif besar, maka koloid mempunyai daya
adsorpsi yang besar.
Adsorpsi ion-ion oleh partikel koloid membuat partikel koloid menjadi
bermuatan listrik. Muatan koloid menyebabkan gaya tolak-menolak di antara
partikel koloid, sehingga menjadi stabil (tidak mengalami sedimentasi).
Muatan partikel koloid dapat ditunjukkan dengan elektroforesis, yaitu
pergerakan partikel koloid dalam medan listrik.
Penggumpalan partikel koloid disebut koagulasi. Koagulasi dapat terjadi
karena berbagai hal, misalnya pada penambahan elektrolit. Penambahan
elekrolit akan menetralkan muatan koloid, sehingga faktor yang
menstabilkannya hilang.
Campuran koloid dapat dipisahkan dari ion-ion atau partikel terlarut
lainnya melalui dialisis.
Koloid yang medium dispersinya berupa cairan dibedakan atas koloid liofil
dan koloid liofob. Koloid liofil mempunyai interaksi yang kuat dengan
mediumnya; sebaliknya, pada koloid liofob interaksinya tersebut tidak ada atau
sangat lemah.
Banyak sekali produk industri dalam bentuk koloid, terutama karena dengan
bentuk koloid, maka zat-zat yang tidak saling melarutkan dapat disajikan
homogen secara makroskopis.
Pengolahan air bersih memanfaatkan sifat koloid, yaitu adsorpsi dan
koagulasi. Pada pengolahan air bersih digunakan tawas (alumunium sulfat),
kaporit (klorin) dan kapur.
Koloid dapat dibuat dengan cara dispersi atau kondensasi. Pada cara
dispersi, bahan kasar dihaluskan kemudian didispersikan ke dalam medium
dispersinya. Pada cara kondensasi, koloid dibuat dari larutan di mana atom atau
molekul mengalami agregasi (pengelompokan), sehingga menjadi partikel koloid.
Sabun dan detergen bekerja sebagai bahan aktif permukaan yang fungsinya
mengelmusikan lemak ke dalam air.
Asbut adalah suatu bentuk pencemaran yang merupakan sistem koloid.
DAFTAR
PUSTAKA
Harnanto, Ari dan Ruminten.2009.Kimia.Klaten Utara:Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.
Anwar, Budiman.2005.1700 Bank Soal Bimbinga Pemantapan Kimia Untuk SMA/MA.Bandung:Yrama
Widya.
.2010.Buku Latihan Soal-soal Simpati SMA.Surakarta:Grahadi.
