Rabu, 19 Oktober 2022

 

KATA PENGANTAR

Dengan nama ALLAH Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang . Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT , karena atas rahmat dan karunia-NYA kami dapat menyeleseikan tugas ini.

Tugas ini di susun sebagai tugas merangkum materi tentang Koloid  yang merupakan salah satu tugas mata pelajaran Kimia di SMA Negeri 2 Pasuruan.

Selama pelaksanaan dan penyusunan tugas ini, penulis telah memperoleh bantuan, bimbingan, petunjuk serta saran-saran dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengahaturkan rasa syukur dan terima kasih kepada:

  1. Allah SWT dan junjungan kita Rosulullah Muhammad SAW.
  2. Orang tua yang telah memberi do’a dan dukungan baik moril maupun materil yang tak terhingga kepada penulis.
  3. Bapak Drs. M.Thohir selaku kepala sekolah SMAN 2 Pasuruan yang telah banyak memberikan dorongan kepada penulis.
  4. Ibu Agustine, selaku guru pembimbing bidang studi Kimia yang telah banyak memberikan bantuan dan arahan kepada penulis dalam proses belajar mengajar hingga tersusunnya tugas ini.
  5. Staf bapak dan ibu guru yang telah mengajar di SMAN 2 Pasuruan yang telah memberikan dorongan kepada penulis.
  6. Semua teman yang telah membantu kami selama penelitian pertumbuhan adenium sehingga kami bisa menyelesaikan tugas ini.

Kami sangat menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun sebagai bahan masukan dan bahan pertimbangan bagi kami dalam menyelesaikan tugas-tugas berikutnya.

 

Pasuruan,22 Maret 2010

 

Penulis

 

DAFTAR ISI

 

COVER................................................................................................................................... i

KATA PENGANTAR..........................................................................................................  ii

DAFTAR ISI.......................................................................................................................... iii

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

1.1  Tujuan.............................................................................................................................. ....1

1.2  Latar Belakang................................................................................................................. ....1

BAB II PEMBAHASAN

2.1  Sistem Koloid................................................................................................................3

2.2  Penyebab Tumbuhan Mati Dalam Praktikum................................................................  ...5

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan......................................................................................................................... 7

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

1.1  Tujuan

ü  Untuk memenuhi tugas dari guru bidang studi.

ü  Untuk bahan belajar mengenai materi Koloid

 

1.2  Latar Belakang

Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (2 fase) antara dua zat atau lebih dimana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi atau yang dipecah) tersebar secara merata didalam zat lain (medium pendispersi atau pemecah). Ukuran partikel koloid berkisar antara 1-100 Nm. Ukuran yang dimaksud dapat berupa diameter, panjang, lebar maupun tebal dari suatu partikel. Contoh dari sistem koloid adalah tinta, yang terdiri dari serbuk-serbuk warna (padat) dengan cairan (air). Selain tinta, masih terdapat banyak sistem koloid yang lain, seperti mayones, hairspray, jelly, dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

2. 1      Sistem Koloid

            Koloid sudah dikenal sejak ribuan tahun, tetapi dipelajari secara ilmiah baru dimulai awal abad 19. Pada tahun 1907 Ostwald mengemukakan istilah Sistem Dispersi untuk koloid. Dispersi merupakan pencampuran secara merata antara dua zat atau lebih. Ostwald kemudian menggolongkan system koloid atas dasar ketiga fase materi yaitu padat, cair dan gas. Berdasarkan ukuran partikel, dalam system dispersi dapat digolongkan menjadi tiga macam antara lain sebagai berikut:

a.       Larutan

Larutan adalah zat yang terdispersi secara homogen dalam medium pendispersi.

b.      Suspensi

Suspensi adalah zat yang terdispersi secara heterogen dalam medium pendispersinya.

c.       Sistem koloid

Sistem koloid adalah campuran antara campuran homogen dan campuran heterogen.Sistem koloid merupakan keadaan diantara suatu larutan dan suspensi.

Tabel Perbandingan Sifat Larutan, Sistem koloid dan Suspensi

No

Sifat

Larutan

Sistem koloid

Suspensi

1

Bentuk Campuran

Homogen

Tampak Homogen

Heterogen

2

Bentuk Dispersi

Dispersi Molekuler

Dispersi Padatan

Dispersi Padatan

3

Ukuran Partikel

<10-7 cm atau <1 nm

10-7 – 10-5 cm atau 1 nm – 100 nm

>10-5 cm atau >100 nm

4

Penyaringan

Tidak dapat disaring

Dapat disaring dengan penyaring ultra

Dapat disaring dengan penyaring biasa

 

 

Stabil atau tidak memisah

Pada umumnya stabil

Tidak stabil

 

 

Jernih

Tidak jernih

Tidak jernih

 

 

Satu fase

Dua fase

Dua fase

 

 

Contoh :

- Larutan gula

- Larutan garam

- Alkohol 70%

- Udara bersih

Contoh :

- Sabun

- Susu

- Santan

- Jeli

- Mentega

Contoh:

- Air sungai yang keruh

- Air dengan pasir

- Kopi dengan air

- Minyak dengan air

- Tepung beras dalam air

   

2. 2      Macam – Macam Koloid

            Jika suatu larutan tersusun dari komponen – komponen zat terlarut dan pelarut, maka suatu sistem koloid juga tersusun dari dua komponen, yaitu sebagai berikut :

1.        Fase terdispersi ( zat terlarut ) adalah zat yang didispersikan ke dalam zat lain atau zat yang jumlahnya sedikit.

2.        Medium pendispersi ( pelarut ) adalah fase yang digunakan untuk mendispersikan atau zat yang jumlahnya banyak.

Contoh :

*        Dispersi tanah liat

*        Fase terdispersi : partikel tanah liat

*        Medium pendispersi : air

 

 

Tabel Macam – macam sistem koloid

No

Fase terdispersi

Medium pendispersi

Nama koloid

Contoh

1

Gas

Gas

-

-

2

Gas

Cair

Busa, Buih

Krim, busa sabun, ombak, busa bir

3

Gas

Padat

Busa Padat

Batu apung, karet busa, lava

4

Cair

Gas

Aerosol Cair

Kabut, awan, spray/obat semprot

5

Cair

Cair

Emulsi

Susu, scot emulsion, santan, mayones

6

Cair

Padat

Emulsi padat / gel

Keju, mentega, agar – agar, lateks

7

Padat

Gas

Aerosol Padat

Asap, debu

8

Padat

Cair

Sol

Cat, kanji, tinta, sol belerang, air sungai

9

Padat

Padat

Sol Padat

Intan, kaca, Perunggu, Kuningan

 

 

 

 

Pengertian Macam – macam Sistem Koloid

*      Busa atau buih

      Busa atau buih adalah sistem koloid yang fase terdispersinya gas dan medium pendispersinya cair. Busa adalah sistem koloid yang stabil karena sabun merupakan surfaktan. Molekul surfaktan cenderung terkonsentrasi pada permukaan atau antar permukaan cairan dan gas, dan terdiri atas dua bagian, yaitu yang bersifat nonpolar dan gugus polar.Busa atau buih dapat digunakan pada berbagai proses, misalnya pengolahan biji logam pada alat pemadam kebakaran.

 

*      Busa Padat

       Busa padat adalah sistem koloid yang terjadi jika padat terdispersi dalam gas, misalnya batu apung. Busa padat terjadi pada suhu tinggi dengan medium pendispersi yang mempunyai titik lebur di atas suhu kamar sehingga pada suhu kamar berwujud padat.

 

*      Aerosol Cair

       Aerosol cair adalah sistem koloid dengan fase terdispersi cair dalam medium pendispersi gas. Aerosol awan yang sering kita jumpai, misalnya kabut dan awan.Kabut letaknya dekat permukaan bumi sedangkan awan terdapat di angkasa. Kabut terjadi jika udara yang memiliki kelembapan tinggi mengalami pendinginan sehingga uap air yang terkandung di udara mengembun dan bergabung membentuk sistem koloid.

 

*      Emulsi

       Emulsi adalah sistem dispersi antara cairan dengan cairan yang tidak dapat bercampur homogen. Misalnya minyak dalam air dan susu. Jika minyak dimasukkan kedalam air, akan diperoleh emulsi minyak air. Sebaliknya, jika tetes – tetes air dimasukkan ke dalam minyak diperoleh emulsi air minyak. Pada umumnya emulsi kurang stabil. Untuk menstabilkan suatu emulsi diperlukan zat pengelmusi yang disebut emulgator. Fungsi zat pengelmusi atau emulgator adalah menurunkan tegangan permukaan cairan sehingga tidak mudah bergabung lagi. Contoh emulgator antara lain : sabun, detergen, gelatin, lesitin, kasein, fosfolipida, gom, senyawa fluorokarbon, dan alkanolamida lemak.

*      Emulsi Padat

       Emulsi padat adalah sistem koloid dengan fase terdispersi cair dalam medium pendispersi pada yang tidak dapat bercampur. Misalnya, mentega adalah dispersi air dalam lemak.

*      Aerosol Padat

Aerosol padat atau sol gas ialah koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase gas. Hal ini berarti zat terdispersi fase padat dan medium fase gas. Contoh: asap dan debu.

*      Sol

Sol ialah jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase cair. Berarti, Hal ini berarti zat terdispersi fase padat dan medium fase cair. Contoh: cat, tinta, dan kanji.

*      Sol padat

Sol padat ialah jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase padat. Contoh: logam paduan, kaca berwama, intan hitam, dan baja.

2. 3      Sifat – Sifat Koloid

Pada dasarnya sifat koloid dapat digolongkan berdasarkan sifat optik dan sifat listriknya, yaitu sebagai berikut:

A.     Berdasarkan Sifat Optiknya

Yang termasuk sifat optik antara lain :

1.      Efek Tyndall

Efek Tyndall ini ditemukan oleh John Tyndall (1820-1893), seorang ahli fisika Inggris. Oleh karena itu sifat itu disebut efek tyndall.

Efek Tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar atau efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid jika seberkas cahaya dilewatkan pada koloid. Efek tyndall terjadi karena partikel koloid mampu memantulkan kembali cahaya yang diterima. Pada saat larutan sejati (gambar kiri) disinari dengan cahaya, maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan pada sistem koloid (gambar kanan), cahaya akan dihamburkan. Hal itu terjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya, pada larutan sejati, partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati.

Contoh:

*    Sorot lampu pada malam hari kelihatan jelas jika ada partikel debu, asap atau kabut.

*    Pancaran sinar matahari ke bumi

*    Sorot lampu proyektor dalam gedung bioskop yang tampak karena ruangan berasap

  1. Gerak Brown

Jika kita amati system koloid dibawah mikroskop ultra, maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak terus – menerus secara acak membentuk zigzag. Gerakan acak dari partikel koloid dalam medium pendispersinya yang membentuk zigzag ini dinamakan gerak Brown. Pergerakan tersebut dijelaskan pada penjelasan berikut:

 Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas, atau hanya bervibrasi di tempat seperti pada zat padat. Untuk system koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu sendiri. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran partikel cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. Sehingga terdapat suatu resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak Brown.

          Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam zat padat (suspensi).

          Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu system koloid, maka semakin besar energi kinetic yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu system koloid, maka gerak Brown semakin lambat.Gerak Brown merupakan salah satu faktor yang menstabilkan koloid, karena bergerak terus – menerus sehingga partikel koloid dapat mengimbangi gaya gravitasi sehingga tidak mengendap.

B.     Berdasarkan sifat listriknya

1.Adsorpsi koloid

 

            Apabila partikel-partikel sol padat ditempatkan dalam zat cair atau gas, maka pertikel-partikel zat cair atau gas tersebut akan terakumulasi pada permukaan zat padat tersebut. Fenomena ini disebut adsorpsi. Beda halnya dengan absorpsi. Absorpsi adalah fenomena menyerap semua partikel ke dalam sol padat bukan di atas permukaannya, melainkan di dalam sol padat tersebut.

           Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi partikel-partikel pada permukaannya, baik partikel netral atau bermuatan (kation atau anion) karena mempunyai permukaan yang sangat luas.

Contoh :

ü  Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+.

ü  koloid2%20kim-1koloid1%20kim-1Koloid As2S3 bermuatan negatit karena permukaannya menyerap ion S2.

     

 

 

       Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena                                                     Koloid As2S3 bermuatan negatif karena                  permukaannya menyerap ion H+                                                          permukaannya menyerap ion S2

2. Elektroforesis

Elektroforesis adalah peristiwa pergerakan partikel koloid yang bermuatan kesalah satu elektrode. Elektroforesis dapat digunakan untuk mendeteksi muatan suatu sistem koloid. Jika koloid bergerak menuju elektroda positif maka koloid yang dianalisa mempunyai muatan negatif. Begitu juga sebaliknya, jika koloid bergerak menuju elektroda negatif maka koloid yang dianalisa mempunyai muatan positif. Salah satu proses yang menggunakan sistem elektroforesis adalah proses membersihkan asap dalam suatu industri dengan menggunakan alat Cottrell. Penggunaan elektroforesis tidak hanya sebatas itu, melainkan meluas untuk memisahkan partikel yang termasuk dalam ukuran koloid, antara lain pemisahan protein yang mempunyai muatan yang berbeda. Contoh percobaan elektroforesis sederhana untuk menentukan jenis muatan dari koloid X diperlihatkan pada Gambar.

Penyaringan Ultra

Penyaringan ultra digunakan untuk memisahkan koloid melewati membran. Proses pemisahan ini didasarkan pada perbedaan tekanan osmosis.

rangkaian

 

 

 

 

 

 

Contoh penggunaan elektroforesis antara lain :

*      Penentuan muatan suatu partikel koloid

*      Pengurangan zat – zat pencemar udara yang dikeluarkan dari cerobong asap pabrik

3.  Koagulasi

Koagulasi adalah peristiwa penggumpalan atau pengendapan koloid.Proses terjadinya koagulasi adalah sebagai berikut :

*      Cara mekanik, misalnya : pemanasan, pendinginan atau pengadukan.

*      Cara kimia, yaitu dengan cara penambahan larutan elektrolit.

*      Pencampuran dua koloid yang berbeda muatan, misalnya Al(OH)3 bermuatan positif dicampur dengan As2S3 akan membentuk endapan.

 

 

 

 

 

Beberapa contoh koagulasi dalam kehidupan sehari – hari dan industri sebagai berikut:

*      Pembentukan delta pada muara sungai

*      Pengolahan air

*      Proses penjernihan air

*      Penggumpalan darah

 

  1. Koloid Pelindung

Koloid pelindung adalah koloid yang dapat memberikan efek kestabilan koloid sehingga koloid terhindar dari proses koagulasi. Fungsi koloid pelindung adalah membentuk lapisan disekeliling partikel koloid sehingga dapat melindungi muatan koloid. Koloid pelindung banyak digunakan dalam pembuatan cat, tinta, krim rambut, es krim, dan sebagainya.

 

Contoh:

*      Susu merupakan emulsi lemak dalam air, koloid pelindungnya adalah kasein.

 

 

 

 

 

 

b

  1. Dialisis

Dialisis merupakan proses pemurnian suatu sistem koloid dari partikel-partikel bermuatan yang menempel pada permukaan.Tujuan dialisis adalah untuk menghindari koagulasi dari ion-ion pengganggu.

Misal :

*      Pada pembuatan sol Fe(OH)3 terdapat ion Cl- dan H+.

*      Pada pembuatan As2S3 terdapat ion H+ dan S2-.

Caranya, koloid dimasukkan dialisator, bagian luar terus – menerus dialiri air, zat yang terdapat koloid misalnya  ion – ion dan molekul dapat menembus membran permeable. Proses pemisahan ini didasarkan pada perbedaan laju transport partikel. Prinsip dialisis digunakan dalam alat cuci darah bagi penderita gagal ginjal, di mana fungsi ginjal digantikan oleh dialisator.

Prinsip dialisis

 

 

 

 

C.    Berdasarkan bentuknya

Koloid yang memiliki medium dispersi cair dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut:

1.      Koloid Liofil

(Lio = Cairan ; philia = Senang)

Partikel – partikel koloid dapat mengabsorpsi cairan mediumnya, sehingga terbentuk selubung cairan di sekeliling partikel koloid. Jika cairannya berupa air maka istilahnya adalah hidrofil. Contoh: kanji, protein, agar – agar, dll.

 

2.      Koloid Liofob

(Lio = cairan ; Phobia = takut / tidak senang).

 

 

Perbandingan sifat sol hidrofil dan sol hidrofob adalah sebagai berikut :

No

Koloid Hidrofil

Koloid Hidrofob

1

Stabil, tidak perlu stabilizer

Kurang stabil, perlu ditambah stabilizer

2

Mudah dibuat, cukup dengan pengadukan / pemanasan

Sukar dibuat, memerlukan metode khusus

3

Digumpalkan dengan penambahan elektrolit yang banyak

Mudah digumpalkan dengan hanya penambahan sedikit elektrolit

4

Koloid bersifat reversible

Koloid bersifat irreversible

5

Efek Tyndall terlihat samar, sebab partikel lebih halus

Efek Tyndall terlihat jelas, sebab partikel lebih jelas

6

Gerak Brown cepat

Gerak Brown lambat

7

Fasa terdispersi pada umumnya zat organik

Fasa terdispersi pada umumnya zat anorganik

8

Beberapa sol liofil dapat diubah menjadi gel

Tidak ada sol liofob yang dapat diubah menjadi gel

2.4 Pembuatan Koloid

Oleh karena ukuran partikel koloid terletak diantara partikel suspensi dan partikel larutan, maka terdapat dua cara pembuatan sistem koloid.

*      CARA DISPERSI

Pada prinsipnya adalah mendapatkan partikel koloid dengan menghaluskan partikel kasar ( suspensi ). Ada 3 cara yang digunakan dalam cara dispersi, yaitu sebagai berikut :

*        Cara Mekanik :

Proses mekanik adalah proses pembuatan koloid melalui penggerusan atau penggilingan (untuk zat padat) serta dengan pengadukan atau pengocokan (untuk zat cair). Setelah diperoleh partikel yang ukurannya sesuai dengan ukuran koloid, kemudian didispersikan ke dalam medium (pendispersinya). Contoh, pembuatan sol belerang.

 

*        Cara Kimia (Peptisasi)

            Peptisasi adalah cara pembuatan koloid dengan menggunakan zat kimia (zat elektrolit) untuk memecah partikel besar (kasar) menjadi partikel koloid  atau dengan cara penambahan elektrolit yang mengandung ion sejenis. Contoh, proses pencernaan makanan dengan enzim dan pembuatan sol belerang dari endapan nikel sulfida, dengan mengalirkan gas asam sulfida.

 

 

 

 

 

*      Cara Busur Bredig (Elektrodispersi)

      Busur Bredig ialah alat pemecah zat padatan (logam) menjadi partikel koloid dengan menggunakan arus listrik tegangan tinggi. Caranya : dua kawat logam yang berfungsi sebagai elektroda dicelupkan kedalam air, kemudian diantara kedua kawat diberi loncatan listrik. Sebagian logam akan mendebu kedalam air dan terbentuklah koloid.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*     Suara Ultrasonik

Cara ini hampir sama dengan cara busur Bredig, yaitu sama-sama untuk pembuatan sol logam. Ka1au busur Bredig menggunakan arus listrik tegangan tinggi, maka cara ultrasonik menggunakan energi bunyi dengan frekuensi sangat tinggi, yaitu di atas 20.000 Hz.

 

*      CARA KONDENSASI

Pada prinsipnya partikel – partikel halus (ion, atom, molekul) digumpalkan menjadi partikel berukuran koloid.Ada 2 cara yang digunakan dalam cara kondensasi, yaitu sebagai berikut :

*      Cara Fisika:

      Pendinginan, pergantian pelarut, dan pengembunan.

*      Cara kimia:

1)     Reaksi Redoks

Dalam reaksi ini disertai perubahan bilangan oksidasi.

a.Pembuatan sol belerang

2H2S(g) + SO2(aq) ® 3S(s) + 3H2O(l)

b.Pembuatan sol emas

AuCl3(aq) + 3FeSO4(aq) ® Au(s) + Fe(SO4)3(aq) + FeCl3(aq)

2)      Reaksi Hidrolisis

Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air.

a. Pembuatan sol Fe(OH)3

FeCl3(aq) + 3H2O(l) ® Fe(OH)3(s) + 3HCl(aq)

b.Pembuatan sol AL(OH)3

AlCl3(aq) + 3H2O(l) ® Al(OH)3(s) + 3HCl(aq)

3)     Reaksi Substitusi

Pembuatan sol As2S3

2H3AsO3(aq) + 3H2S(g) ® As2S3(s) + 6H2O

4)     Reaksi Penggaraman

Sol garam yang sukar larut : AgCl, AgBr, PbI2, PbSO4, BaSO4.

AgNO3(aq) + NaCl(aq) ® AgCl(s) + NaNO3(aq)

 

 

2.5 Penggunaan Koloid Dalam Kehidupan Sehari – Hari

Sistem koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi dalam skala besar.

Berikut ini adalah tabel aplikasi koloid:

No.

Jenis Industri

Contoh Aplikasi

1

Industri makanan

Keju, mentega, susu, saus salad

2

Industri kosmetika dan perawatan tubuh

Krim, pasta gigi, sabun

3

Industri cat

Cat

4

Industri kebutuhan rumah tangga

Sabun, deterjen

5

Industri pertanian

Peptisida dan insektisida

6

Industri farmasi

Minyak ikan, pensilin untuk suntikan

 

Berikut ini adalah penjelasan mengenai aplikasi koloid:

1.      Pemutihan Gula

Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Dengan melarutkan gula ke dalam air, kemudian larutan dialirkan melalui sistem koloid tanah diatomae atau karbon. Partikel koloid akan mengadsorpsi zat warna tersebut. Partikel-partikel koloid tersebut mengadsorpsi zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat berwarna putih.

2.      Penggumpalan Darah

            Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif. Jika terjadi luka, maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik atau tawas yang mengandung ion-ion Al3+ dan Fe3+. Ion-ion tersebut membantu agar partikel koloid di protein bersifat netral sehingga proses penggumpalan darah dapat lebih mudah dilakukan. 

3.      Penjernihan Air

            Air keran (PDAM) yang ada saat ini mengandung partikel-partikel koloid tanah liat,lumpur, dan berbagai partikel lainnya yang bermuatan negatif. Oleh karena itu, untuk menjadikannya layak untuk diminum, harus dilakukan beberapa langkah agar partikel koloid tersebut dapat dipisahkan. Hal itu dilakukan dengan cara menambahkan tawas (Al2SO4)3.Ion Al3+ yang terdapat pada tawas tersebut akan terhidroslisis membentuk partikel koloid Al(OH)3 yang bermuatan positif melalui reaksi:

Al3+   +   3H2®  Al(OH)3   +      3H+

Setelah itu, Al(OH)3 menghilangkan muatan-muatan negatif dari partikel koloid tanah liat/lumpur dan terjadi koagulasi pada lumpur. Lumpur tersebut kemudian mengendap bersama tawas yang juga mengendap karena pengaruh gravitasi. Berikut ini adalah skema proses penjernihan air secara lengkap:

 

 

 

 

 

 

 

4.       Pembentukan delta di muara sungai

Air sungai mengandung partikel-partikel koloid pasir dan tanah liat yang bermuatan negatif. Sedangkan air laut mengandung ion-ion Na+, Mg2+, dan Ca2+ yang bermuatan positif. Ketika air sungai bertemu di laut, maka ion-ion positif dari air laut akanmenetralkan muatan pasir dan tanah liat. Sehingga, terjadi koagulasi yang akan membentuk suatu delta.

5.      Pengambilan endapan pengotor

Gas atau udara yang dialirkan ke dalam suatu proses industri seringkali mangandung zat-zat pengotor berupa partikel-partikel koloid. Untukmemisahkan pengotor ini, digunakan

alat pengendap elektrostatik yang pelat logamnya yang bermuatan akan digunakan untuk

menarik partikel-partikel koloid.

6.      Produk  Makanan

Banyak artikel makanan yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari kita koloid di alam. Sebagai contoh, susu, mentega dan es krim merupakan koloid di alam.

7.      Obat

Sebagian besar obat-obatan koloid di alam. Koloid kalsium dan emas yang dikelola oleh suntikan untuk meningkatkan vitalitas sistem manusia.

8.      Asap Air hujan menggunakan Cottrell precipitator

Partikel koloid Asap dan debu merupakan sumber utama polusi di kota-kota industri besar. Asap presipitasi adalah teknik mempercepat partikel asap yang ada di udara.
Asap partikel bermuatan listrik partikel koloid tergantung di udara. Untuk menghilangkan partikel-partikel dari udara, Cottrell precipitator digunakan. Cottrell precipitator menggunakan prinsip electrophoreses (pergerakan partikel koloid di bawah pengaruh medan listrik) untuk menyaring partikel asap. Udara yang mengandung asap dan partikel debu yang diperbolehkan untuk melewati elektroda logam hadir dalam Cottrell precipitator. Partikel bermuatan ini malah bergerak ke arah elektroda bermuatan dan mendapatkan didepositokan sana dari mana mereka ini dihapuskan secara mekanis.

9.      Hujan buatan

Koloid menemukan aplikasi lain dalam menghasilkan hujan buatan. Awan terdiri dari partikel bermuatan air tersebar di udara. Partikel-partikel ini malah dinetralisir dengan menyemprotkan partikel bermuatan di atas awan. Dinetralkan ini partikel air dapat bergabung menjadi tetesan air besar. Dengan demikian, hujan buatan disebabkan oleh agregasi partikel menit air untuk membentuk partikel besar.

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP 

3.1 KESIMPULAN

*      Partikel koloid dapat menghamburkan cahaya sehingga berkas cahaya yang melalui sistem koloid. Dapat diamati dari samping sifat partikel koloid ini disebut efek Tyndall.

*       Jika diamati dengan mikroskop ultra ternyata partikel koloid senantiasa bergerak dengan gerak patah-patah yang disebut gerak Brown. Gerak Brown terjadi karena tumbukan tak simetris antara molekul medium dengan partikel koloid.

*      Koloid dapat mengadsorpsi ion atau zat lainpada permukaannya, dan oleh karena luas permukaannya yang relatif besar, maka koloid mempunyai daya adsorpsi yang besar.

*      Adsorpsi ion-ion oleh partikel koloid membuat partikel koloid menjadi bermuatan listrik. Muatan koloid menyebabkan gaya tolak-menolak di antara partikel koloid, sehingga menjadi stabil (tidak mengalami sedimentasi).

*      Muatan partikel koloid dapat ditunjukkan dengan elektroforesis, yaitu pergerakan partikel koloid dalam medan listrik.

*      Penggumpalan partikel koloid disebut koagulasi. Koagulasi dapat terjadi karena berbagai hal, misalnya pada penambahan elektrolit. Penambahan elekrolit  akan menetralkan muatan koloid, sehingga faktor yang menstabilkannya hilang.

*      Campuran koloid dapat dipisahkan dari ion-ion atau partikel terlarut lainnya melalui dialisis.

*      Koloid yang medium dispersinya berupa cairan dibedakan atas koloid liofil dan koloid liofob. Koloid liofil mempunyai interaksi yang kuat dengan mediumnya; sebaliknya, pada koloid liofob interaksinya tersebut tidak ada atau sangat lemah.

*      Banyak sekali produk industri dalam bentuk koloid, terutama karena dengan bentuk koloid, maka zat-zat yang tidak saling melarutkan dapat disajikan homogen secara makroskopis.

*      Pengolahan air bersih memanfaatkan sifat koloid, yaitu adsorpsi dan koagulasi. Pada pengolahan air bersih digunakan tawas (alumunium sulfat), kaporit (klorin) dan kapur.

*      Koloid dapat dibuat dengan cara dispersi atau kondensasi. Pada cara dispersi, bahan kasar dihaluskan kemudian didispersikan ke dalam medium dispersinya. Pada cara kondensasi, koloid dibuat dari larutan di mana atom atau molekul mengalami agregasi (pengelompokan), sehingga menjadi partikel koloid.

*      Sabun dan detergen bekerja sebagai bahan aktif permukaan yang fungsinya mengelmusikan lemak ke dalam air.

*      Asbut adalah suatu bentuk pencemaran yang merupakan sistem koloid.

                                                                                                                                                 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Harnanto, Ari dan Ruminten.2009.Kimia.Klaten Utara:Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Anwar, Budiman.2005.1700 Bank Soal Bimbinga Pemantapan Kimia Untuk SMA/MA.Bandung:Yrama Widya.

          .2010.Buku Latihan Soal-soal Simpati SMA.Surakarta:Grahadi.

 

 

0 Comments:

Post a Comment



By :
Free Blog Templates